Sabtu, 17 Agustus 2013

TAFSIR SURAT AL FATIHAH AYAT 5

Hanya kepada Engkaulah Kami menyembah, dan hanya kepada engkaulah kami minta pertolongan.

Menurut Imam Ibnu Qoyyim rahimanullah dalam kitabnya Madarijus Salikin mengatakan. Inti dari Al Quran adalah surat Al Fatihah, Inti Surat Al Fatihah adalah Ayat Ke lima.
Disini kita memanggil Allah dengan kata ganti kedua yaitu Engkau, Sedangkan pada ayat ke 1,2,3,dan 4 kata gantinya adalah Dia (Allah). Karena dari ayat 1,2,3,dan 4 isinya pujian kepada Allah. Jadi pada ayat sebelumnya kita memuja dan memuji Allah, Setelah melalui sekian pujian pujian dan pujian kepada Allah seakan akan kita semakin mendekat kepada Allah hingga kita seolah olah tinggal berhadapan dengan Allah. sehingga saat itulah kita memohon iyyaka...
Kalau kita cermati susunan kalimat diatas berupa kalimat pasif, yaitu Obyeknya (Engkau)  yang di dahulukan. Susunan yang lazim dalam bahasa adalah Subyek Predikat Obyek. Tapi dalam kalimat ini dibalik. Dalam tatanan bahasa arab hal ini berarti pembatasan dan pengkhususan maksudnya bahwa ibadah dibatasi dan dikhususkan hanya kepada Allah sehingga jika diartikan ke bahasa indonesia berarti Hanya Engkau.inilah yang disebut Iklash. Jadi Jika ada seseorang menyembah Allah juga menyembah selain allah berarti belum mengiklaskan ibadah kepada Allah.
Tentu berbeda jika kalimatnya disusun kami menyembah kepada engkau. ini bisa jadi  selain kita menyembah Allah Juga bisa berarti kita masih menyembah selain Allah . 
Sebagian orang mengira jika seseorang beribadah kepada Allah plus beribadah kepada selain Allah maka  tidak dianggap Syirik. ini keliru, bahwasanya ibadah yang dipersembahkan kepada selain Allah saja yang di sebut syirik. Bukan itu maksud dari syirik. Syirik itu mempersekutukan  artinya ada dua yang dituju. Nabi memerintahkan kita untuk mengiklaskan beribadah kepada Allah juga diiringi dengan larangan beribadah kepada selain Allah. Karena pada zaman dulu kaum musrikin juga beribadah kepada Allah tapi masalahnya mereka juga beribadah kepada selain Allah dengan Alasan wasilah atau sebagai perantara untuk menyampaikan kepada Allah.

Dan kepada engkaulah kami minta pertolongan.

Pertolongan disini untuk menjalankan ketaatan . Alasan kenapa perintah untuk beribadah dengan perintah untuk minta tolong ini digabungkan adalah karena ibadah merupakan hak Allah atas Hambanya dan hamba Allah tidak mungkin bisa menunaikan hak tersebut tanpa pertolongan dari Allah. Jangan harap kita bisa beribadah kepada kepada Allah tanpa pertolonganNya. Manusia ditakdirkan sebagai mahluk yang lemah. Sekuat apapun fisik kita tanpa pertolongan Allah niscaya kita tidak mungkin bisa beribadah kepada Allah. Betapa banyak orang sehat tetapi karena tidak mendapat pertolongan Allah maka sulit mereka melangkahkan kaki ke masjid untuk sholat berjamaah. Seolah olah di kaki mereka dibelenggu dengan rantai ke ranjangnya. Jadi Jangan kita merasa sombong setelah kita sudah beribadah dengan tekun. Dengan menyadari ayat tersebut ini kita harapkan dapat mengikis sifat sombong yang menjangkiti orang orang yang taat beribadah

SURAT AL FATIHAH ADALAH DIALOG ANTARA ALLAH DENGAN HAMBANYA



Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Beberapa Keutamaan Basmalah :
1.      Basmalah menjadi pemula untuk berbagai bentuk ibadah, seperti wudhu, atau mandi dan tayamum, menurut pendapat sebagian ulama. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah (membaca basmalah).” (HR. Abu Daud 101 dan dishahihkan al-Albani).
Hadis ini berbicara tentang wudhu, namun ulama mengqiyaskannya untuk mandi dan tayamum, karena semuanya adalah kegiatan bersuci.
2.      Perlindungan dari setan ketika makan
Orang yang makan atau minum dengan didahului membaca basmalah sebelumnya maka setan tidak mampu untuk turut memakannya. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka hendaknya ia menyebut nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa untuk menyebut nama Allah Ta’ala di awal, hendaklah ia mengucapkan: “Bismillaahi awwalahu wa aakhirohu (dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)”.” (HR. Abu Daud no. 3767 dan At Tirmidzi no. 1858. At Tirmidzi dan dishahihkan al-Albani).
Dari hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya setan dibolehkan makan makanan yang tidak dibacakan nama Allah ketika hendak dimakan.”(HR. Abu Daud no. 3766 dan dishahihkan al-Albani)
3.      Penghalang antara pandangan jin dan aurat manusia.
Seperti yang sering kita bahas, kita tidak bisa melihat jin, namun jin bisa melihat kita dalam semua keadaan. Tidak segan-segan, jin yang kurang bertanggung jawab, juga akan melihat kita dalam posisi ketika tidak berbusana. Untuk menanggulangi hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar ketika buka pakaian, kita tidak lupa membaca basmalah.
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Penghalang antara mata jin dengan aurat bani Adam, apabila kalian masuk kamar kecil, ucapkanlah bismillah.” (HR. Turmudzi 606 dan dishahihkan al-Albani).
4.          Menghalangi setan menginap di dalam rumah
Bacaan basmalah diucapkan ketika masuk rumah, bisa menjadi penghalang bagi setan untuk ikut memasukinya atau menginap di dalamnya.
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 “Jika seseorang masuk rumahnya dan dia mengingat nama Allah ketika masuk dan ketika makan, maka setan akan berteriak: ‘Tidak ada tempat menginap bagi kalian dan tidak ada makan malam.’ Namun jika dia tidak mengingat Allah ketika masuk maka setan mengatakan, ‘Kalian mendapatkan tempat menginap’ dan jika dia tidak mengingat nama Allah ketika makan maka setan mengundang temannya, ‘Kalian mendapat jatah menginap dan makan malam’.” (HR. Muslim).
5.            Menjadi syarat halalnya hewan sembelihan
Diantara keberkahan basmalah, orang yang menyembelih binatang dengan menyebut basmalah, hewan sembelihannya bisa menjadi halal. Sebaliknya, orang yang menyembelih binatang tanpa mengucapkan basmalah, baik disengaja maupun lupa, sembelihannya batal, dan hewan itu tidak boleh dimakan. Allah berfirman,
 “Janganlah kalian makan (hewan) yang tidak disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya. Itu sesuatu yang fasik (tidak halal).” (QS. Al-An’am: 121).
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam

Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, maka Allah Swt menjawab dengan ucapan hamida-ni abdi, hambaku telah memujiku.
(Dari hadis Riwayat Muslim)

menurut Nabi Muhammad Saw, pada saat hamba mengucapkan ayat ini, maka itu berarti hamba tersebut bersyukur kepada Tuhan, sehingga Tuhan pun akan menambahi rezeki.

Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
 
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan atsnâ ‘alayya ‘abdî, hambaku telah memuji kepadaku.

Yang menguasai hari pembalasan.
 
Pengakuan sekaligus juga pujian, bahwa hanya Tuhanlah yang berkuasa pada hari kiamat. Ini merupakan pujian ketiga berturut-turut, dan begitulah pendidikan dari Tuhan kepada manusia.
Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan majida-nî ‘abdî, hambaku telah memujiku.

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Setelah mengajari manusia tentang metode pendekatan terhadap Tuhan, beberapa pujian serta penegasan tentang sesembahan, barulah Tuhan mengajarkan bahwa setelah manusia melakukan hal itu semua, maka manusia diberi “kesempatan” untuk meminta pertolongan dan perlindungan. Dan pertolongan serta permintaan itu dilakukan manusia hanya ditujukan kepada Tuhan, bukan yang lain. Maka

Pada saat seorang hamba membaca ayat ini, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan hadza baynî wa bayna ‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini adalah [urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan] apapun yang dia minta.

Tunjukilah kami jalan yang lurus

Pengajaran Tuhan selanjutnya; manusia tidak bisa berbuat sombong, oleh karenanya ia diajarkan untuk selalu memohon dan meminta, yang dalam hal ini adalah permintaan untuk sebuah kebenaran. Dan hanya kepada Tuhan sajalah manusia itu memohon kebenaran. Makna kebenaran atau jalan yang lurus di sini tentulah tidak sederhana, namun ia disimplifikasi pada ayat berikutnya.

Jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Kenikmatan Tuhan hanyalah diberikan kepada orang-orang yang Dia kehendaki, dan itu bukanlah kepada orang-orang yang dimurkai dan yang memilih jalan sendiri. Abdullah ibn Abbas menyebutkan bahwa orang-orang yang telah dianugerahi kenikmatan oleh Tuhan, di antaranya, adalah para nabi dan orang-orang yang saleh, orang yang bersih jiwanya.
Pada saat seorang hamba membaca ayat keenam dan ketujuh, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw, maka Allah Swt mengikutinya dengan ucapan sama dengan pada ayat kelima hadza baynî wa bayna ‘abdî, wa li-‘abdî mâ sa-ala, ini adalah [urusan] antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku, [kuberikan] apapun yang dia minta.

Begitu besarnya manfaat bacaan tersebut di atas, yang apabila kita baca dalam sholat dengan khusuk, niscaya kita akan merasa bahwa kita berdialog langsung dengan sang pencipta sehingga doa kita dalam surat tersebut akan dikabulkan oleh Allah. Sehingga kita akan menjadi orang yang bertakwa.

Waallahu ‘alam

Selasa, 06 Agustus 2013

MENGENAL MANHAJ SALAF YANG BENAR



Salaf secara bahasa artinya orang yang terdahulu, baik dari sisi ilmu, keimanan, keutamaan atau jasa kebaikan. Seorang pakar bahasa Arab Ibnu Manzhur mengatakan, “Kata salaf juga berarti orang yang mendahului kamu, yaitu nenek moyangmu, sanak kerabatmu yang berada di atasmu dari sisi umur dan keutamaan. Oleh karenanya maka generasi awal yang mengikuti para sahabat disebut dengan salafush shalih (pendahulu yang baik).” (Lisanul ‘Arab, 9/159, dinukil dari Limadza, hal. 30). Makna semacam ini serupa dengan kata salaf yang terdapat di dalam ayat Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya di laut dan Kami jadikan mereka sebagai salaf (pelajaran) dan contoh bagi orang-orang kemudian.” (QS. Az Zukhruf: 55-56). Artinya adalah: Kami menjadikan mereka sebagai pelajaran pendahulu bagi orang yang melakukan perbuatan sebagaimana perbuatan mereka supaya orang sesudah mereka mau mengambil pelajaran dan mengambil nasihat darinya. (lihat Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 20).Dengan demikian kita bisa serupakan makna kata salaf ini dengan istilah nenek moyang dan leluhur dalam bahasa kita. Dalam kamus Islam kata ini bukan barang baru. Akan tetapi pada jaman Nabi kata ini sudah dikenal. Seperti terdapat dalam sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada puterinya Fathimah radhiyallahu ‘anha. Beliau bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik salafmu adalah aku.” (HR. Muslim). Artinya sebaik-baik pendahulu. (lihat Limadza, hal. 30, baca juga Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas hafizhahullah, hal. 7).
Oleh sebab itu secara bahasa, semua orang terdahulu adalah salaf. Baik yang jahat seperti Fir’aun, Qarun, Abu Jahal maupun yang baik seperti Nabi-Nabi, para syuhada dan orang-orang shalih dari kalangan sahabat, dll. Adapun yang akan kita bicarakan sekarang bukanlah makna bahasanya, akan tetapi makna istilah. Hal ini supaya jelas bagi kita semuanya dan tidak muncul komentar, “Lho kalau begitu JIL juga salafi dong..! Mereka kan juga punya pendahulu”. Maaf, Mas… bukan itu yang kami maksudkan…Kemudian apabila muncul pertanyaan “Kenapa harus disebutkan pengertian secara bahasa apabila ternyata pengertian istilahnya menyelisihi pengertian bahasanya?”. Maka kami akan menjawabnya sebagaimana jawaban Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Beliau mengatakan, “Faidahnya adalah supaya kita mengetahui keterkaitan makna antara objek penamaan syari’at dan objek penamaan lughawi (menurut bahasa). Sehingga akan tampak jelas bagi kita bahwasanya istilah-istilah syari’at tidaklah melenceng secara total dari sumber pemaknaan bahasanya. Bahkan sebenarnya ada keterkaitan satu sama lain. Oleh sebab itulah anda jumpai para fuqaha’ (ahli fikih atau ahli agama) rahimahumullah setiap kali hendak mendefinisikan sesuatu maka mereka pun menjelaskan bahwa pengertiannya secara etimologi (bahasa) adalah demikian sedangkan secara terminologi (istilah) adalah demikian; hal ini diperlukan supaya tampak jelas bagimu adanya keterkaitan antara makna lughawi dengan makna ishthilahi.” (lihat Syarh Ushul min Ilmil Ushul, hal. 38).
Istilah Salaf di Kalangan Para Ulama.  
Apabila para ulama akidah membahas dan menyebut-nyebut kata salaf maka yang mereka maksud adalah salah satu di antara 3 kemungkinan berikut:Pertama: Para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.Kedua: Shahabat dan murid-murid mereka (tabi’in).Ketiga: Shahabat, tabi’in dan juga para Imam yang telah diakui kredibilitasnya di dalam Islam yaitu mereka yang senantiasa menghidupkan sunnah dan berjuang membasmi bid’ah (lihat Al Wajiz, hal. 21).Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah menerangkan, “Adapun secara terminologi kata salaf berarti sebuah karakter yang melekat secara mutlak pada diri para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Adapun para ulama sesudah mereka juga tercakup dalam istilah ini karena sikap dan cara beragama mereka yang meneladani para sahabat.” (Limadza, hal. 30).Syaikh Doktor Nashir bin Abdul Karim Al ‘Aql mengatakan, “Salaf adalah generasi awal umat ini, yaitu para sahabat, tabi’in dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun yang mendapatkan keutamaan (sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, -red). Dan setiap orang yang meneladani dan berjalan di atas manhaj mereka di sepanjang masa disebut sebagai salafi sebagai bentuk penisbatan terhadap mereka.” (Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, hal. 5-6).Al Qalsyani mengatakan di dalam kitabnya Tahrirul Maqalah min Syarhir Risalah, “Adapun Salafush shalih, mereka itu adalah generasi awal (Islam) yang mendalam ilmunya serta meniti jalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan senantiasa menjaga Sunnah beliau. Allah ta’ala telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Para imam umat ini pun merasa ridha kepada mereka. Mereka telah berjihad di jalan Allah dengan penuh kesungguhan. Mereka kerahkan daya upaya mereka untuk menasihati umat dan memberikan kemanfaatan bagi mereka. Mereka juga mengorbankan diri demi menggapai keridhaan Allah…” ( lihat Limadza, hal. 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik orang adalah di jamanku (sahabat), kemudian orang sesudah mereka (tabi’in) dan kemudian orang sesudah mereka (tabi’ut tabi’in).” (HR. Bukhari dan Muslim)Sehingga Rasul beserta para sahabatnya adalah salaf umat ini. Demikian pula setiap orang yang menyerukan dakwah sebagaimana mereka juga disebut sebagai orang yang menempuh manhaj/metode salaf, atau biasa disebut dengan istilah salafi, artinya pengikut Salaf. Adapun pembatasan istilah salaf hanya meliputi masa sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in adalah pembatasan yang keliru. Karena pada masa itupun sudah muncul tokoh-tokoh pelopor bid’ah dan kesesatan. Akan tetapi kriteria yang benar adalah kesesuaian akidah, hukum dan perilaku mereka dengan Al Kitab dan As Sunnah serta pemahaman salafush shalih. Oleh karena itulah siapapun orangnya asalkan dia sesuai dengan ajaran Al Kitab dan As Sunnah maka berarti dia adalah pengikut salaf. Meskipun jarak dan masanya jauh dari periode Kenabian. Ini artinya orang-orang yang semasa dengan Nabi dan sahabat akan tetapi tidak beragama sebagaimana mereka maka bukanlah termasuk golongan mereka, meskipun orang-orang itu sesuku atau bahkan saudara Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat Al Wajiz, hal. 22, Limadza, hal. 33 dan Syarah Aqidah Ahlus Sunnah, hal. 8).
Contoh-Contoh Penggunaan Kata “Salaf”. 
Kata salaf sering digunakan oleh Imam Bukhari di dalam kitab Shahihnya. Imam Bukhari rahimahullah mengatakan, “Rasyid bin Sa’ad berkata: Para salaf menyukai kuda jantan. Karena ia lebih lincah dan lebih berani.” Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menafsirkan kata salaf tersebut, “Maksudnya adalah para sahabat dan orang sesudah mereka.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (oleh Rasyid) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum. Karena Rasyid bin Sa’ad adalah seorang tabi’in (murid sahabat), sehingga orang yang disebut salaf olehnya adalah para sahabat tanpa ada keraguan padanya.” Demikian pula perkataan Imam Bukhari, “Az Zuhri mengatakan mengenai tulang bangkai semacam gajah dan selainnya: Aku menemui sebagian para ulama salaf yang bersisir dengannya (tulang) dan menggunakannya sebagai tempat minyak rambut. Mereka memandangnya tidaklah mengapa.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud (dengan salaf di sini) adalah para sahabat radhiyallahu’anhum, karena Az Zuhri adalah seorang tabi’in.” (lihat Limadza, hal. 31-32).Kata salaf juga digunakan oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahihnya. Di dalam mukaddimahnya Imam Muslim mengeluarkan hadits dari jalan Muhammad bin ‘Abdullah. Ia (Muhammad) mengatakan: Aku mendengar ‘Ali bin Syaqiq mengatakan: Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak mengatakan di hadapan orang banyak, “Tinggalkanlah hadits (yang dibawakan) ‘Amr bin Tsabit. Karena dia mencaci kaum salaf.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah para sahabat radhiyallahu ‘anhum.” (Limadza, hal. 32).Kata salaf juga sering dipakai oleh para ulama akidah di dalam kitab-kitab mereka. Seperti contohnya sebuah riwayat yang dibawakan oleh Imam Al Ajurri di dalam kitabnya yang berjudul Asy Syari’ah bahwa Imam Auza’i pernah berpesan, “Bersabarlah engkau di atas Sunnah. Bersikaplah sebagaimana kaum itu (salaf) bersikap. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Tahanlah dirimu sebagaimana sikap mereka menahan diri dari sesuatu. Dan titilah jalan salafmu yang shalih. Karena sesungguhnya sudah cukup bagimu apa yang membuat mereka cukup.” Syaikh Salim mengatakan, “Yang dimaksud adalah sahabat ridhwanullahi ‘alaihim.” (lihat Limadza, hal. 32) Hal ini karena Al Auza’i adalah seorang tabi’in.
Kerancuan Seputar Istilah Salafiyah. 
Sedangkan yang dimaksud dengan salafiyah adalah penyandaran diri kepada kaum salaf. Sehingga bukanlah makna salafiyah sebagaimana yang disangka sebagian orang sebagai aliran pesantren yang menggunakan metode pengajaran yang kuno. Yang dengan persangkaan itu mereka anggap bahwa salafiyah bukan sebuah manhaj (metode beragama) akan tetapi sebagai sebuah sistem belajar mengajar yang belum mengalami modernisasi. Dan yang terbayang di pikiran mereka ketika mendengarnya adalah sosok para santri yang berpeci hitam dan memakai sarung kesana kemari dengan menenteng kitab-kitab kuning. Sebagaimana itulah kenyataan yang ada pada sebagian kalangan yang menisbatkan pondoknya sebagai pondok salafiyah, namun realitanya mereka jauh dari tradisi ilmiah kaum salaf. Syaikh Salim mengatakan, “Adapun salafiyah adalah penisbatan diri kepada kaum salaf. Ini merupakan penisbatan terpuji yang disandarkan kepada manhaj yang lurus dan bukanlah menciptakan sebuah madzhab yang baru ada.” (lihat Limadza, hal. 33).Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Dan tidaklah tercela bagi orang yang menampakkan diri sebagai pengikut madzhab salaf, menyandarkan diri kepadanya dan merasa mulia dengannya. Bahkan wajib menerima pengakuannya itu dengan dasar kesepakatan (para ulama). Karena sesungguhnya madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran itu sendiri.” (Majmu’ Fatawa, 4/149, lihat Limadza, hal. 33). Maka sungguh aneh apabila ada orang zaman sekarang ini yang menggambarkan kepada umat bahwasanya salafiyah adalah sebuah aliran baru yang dicetuskan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab atau Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallah yang ‘memberontak’ dari tatanan yang sudah ada dengan berbagai aksi penghancuran dan pengkafiran yang membabi buta. Sehingga apabila mereka mendengar istilah salafiyah maka yang tergambar di benak mereka adalah kaum Wahabi yang suka mengacaukan ketentraman umat dengan berbagai aksi penyerangan dan tindakan-tindakan tidak sopan. Atau ada lagi yang menganggap bahwa salafiyah adalah gerakan reformasi dakwah yang dipelopori oleh Jamaluddin Al Afghani bersama Muhammad ‘Abduh pada era penjajahan Inggris di Mesir. Padahal ini semua menunjukkan bahwa mereka itu sebenarnya tidak paham tentang sejarah munculnya istilah ini. Syaikh Salim mengatakan, “Orang yang mengeluarkan pernyataan semacam ini atau yang turut menyebarkannya adalah orang yang tidak mengerti sejarah kalimat ini menurut tinjauan makna, asal-usul dan perjalanan waktu yang hakikatnya tersambung dengan para salafush shalih. Oleh karena itu sudah menjadi kebiasaan para ulama pada masa terdahulu untuk mensifati setiap orang yang mengikuti pemahaman sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam hal akidah dan manhaj sebagai seorang salafi (pengikut Salaf). Lihatlah ucapan seorang ahli sejarah Islam Al Hafizh Al Imam Adz Dzahabi di dalam kitabnya Siyar A’laamin Nubalaa’ (16/457) ketika membawakan ucapan Al Hafizh Ad Daruquthni, “Tidak ada yang lebih kubenci selain menekuni ilmu kalam/filsafat.” Maka Adz Dzahabi pun mengatakan (dengan nada memuji, red), “Orang ini (Ad Daruquthni) belum pernah terjun dalam ilmu kalam sama sekali begitu pula tidak menceburkan dirinya dalam dunia perdebatan (yang tercela) dan beliau juga tidak ikut meramaikan perbincangan di dalam hal itu. Akan tetapi beliau adalah seorang salafi.” (Limadza, hal. 34-35). Perlu kita ketahui bersama bahwa Imam Ad Daruquthni yang disebut sebagai ‘salafi’ oleh Imam Adz Dzahabi di atas hidup pada tahun 306-385 H. Sedangkan Ibnu Taimiyah hidup pada tahun 661-728 H. Adapun Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hidup pada tahun 1115-1206 H. Nah, pembaca bisa menyaksikan sendiri siapakah yang lahir terlebih dahulu. Apakah Ibnu Taimiyah atau bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab itu lahir sebelum Ad Daruquthni sehingga beliau layak untuk disebut sebagai pengikut mereka berdua. Apakah dengan penukilan semacam ini kita akan menafsirkan bahwa Imam Ad Daruquthni adalah pengikut Ibnu Taimiyah atau Muhammad bin Abdul Wahhab?? Jawablah wahai kaum yang berakal… Anak kelas 5 SD pun (bukan bermaksud meremehkan, red) tahu kalau yang namanya pengikut itu adanya sesudah keberadaan yang diikuti, bukan sebaliknya. Wallaahul musta’aan. 
(dirangkum dari muslim.or.id)

Minggu, 04 Agustus 2013

CIRI CIRI CALON PENGHUNI SURGA, APAKAH KITA TERMASUK?

Allah SWT didalam firman-Nya QS al-Baqarah ayat 183, yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”

Firman Allah tersebut terkandung makna bahwa ibadah puasa itu esensinya adalah membentuk segenap pribadi muslim bertaqwa. Betapa pentingnya nilai taqwa, dan orang bertaqwalah yang nantinya akan masuk surga. Taqwa  merupakan bekal yang terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan betapa tingginya derajat taqwa. Manusia yang paling mulia derajatnya di sisi Allah SWT adalah orang yang paling taqwa di antara mereka. 

Ciri-ciri  calon penghuni surga  secara jelas kita lihat dalam QS Ali Imran:133-135 yang artinya: 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, 

(yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah SWT menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”   




dari ayat ayat diatas paling tidak ada lima ciri-ciri secara umum kategori orang-orang calon penghuni surga  dimana apakah kita termasuk di dalamnya?

Pertama:
Orang yang menginfakkan harta bendanya di jalan Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
Kita mungkin mudah untuk menginfakan harta kita ketika lagi banyak rejeki, contohnya kita habis dapat Gaji ke 13 (THR) Rp 3 juta, infak 10% misalnya 300.000, ringan, meskipun ada juga orang yang belum bisa infak nyampe segitu karena masih berprinsip biar sedikit asal ikhlas. Bagaimana kalau kita sedang banyak pengeluaran contoh: bayar sekolah anak, bayar cicilan motor/rumah, baru bayar rumah sakit dll. Bisakah kita menginfakan 10% dari gaji kita?

Kedua:
Orang yang mampu menahan amarah.  Meskipun menghadapi keadaan yg sebenarnya kita pantas untuk marah.
Sebagian besar dari kita justru marah ketika pada kondisi yang seharusnya kita tidak pantas marah. tersinggung sedikit marah, diingatkan marah, tidak disapa marah dll

Ketiga:
Orang yang selalu memaafkan dan membalas kejahatan dengan kebaikan. 
Orang seperti ini akan selalu memaafkan orang lain sebelum orang lain meminta maaf. Selalu berbuat baik kepada orang yang menzalimi dirinya. mendoakan orang yang menzalimi agar dapat hidayah dari Allah. Bisakah kita memberi hadiah kepada orang yang membenci kita?

Keempat:, 
tatkala terjerumus pada perbuatan keji dan dosa atau menzalimi diri sendiri, ia segera ingat kepada Allah, dan kemudian bertobat, beristighfar, memohon ampunan kepada-Nya atas segala perbuatan dosa yang telah dilakukannya.

Kelima:
secara sadar tidak mengulang perbuatan keji dan mungkar yang pernah dilakukan.

Dari kelima ciri tersebut diatas kita tahu berada dimanakah posisi kita saat ini. Marilah kita segera bertobat dan berusaha dengan keras untuk menjadi orang yang bertaqwa sehingga kita kelak akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT dan dimasukan kedalam surga yang lebih tinggi dari surga yang paling bawah.
Apakah anda cukup puas dengan surga yang paling bawah?
Surga yang paling bawah adalah tempat orang beriman yang masih sering melakukan dosa, setelah terlebih dulu dibersihkan dosanya di dalam neraka, setelah bersih baru diangkat ke surga.
Mau mampir neraka dulu? 
siksa neraka yang paling ringan yaitu api yang diletakan ditelapak kaki yang mengakibatkan otak kita mendidih.

Senin, 08 Juli 2013

MANFAAT SHOLAT YANG BAIK


"Bila shalatnya baik maka baik pula seluruh amalnya, sebaliknya jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalnya.”
(HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Ash-Shahihah no. 1358 karena banyak jalannya)
Dari Sabda Rasullulah diatas bisa kita tarik kesimpulan bahwa apabila seseorang sholatnya baik maka amalan lainnya pasti baik. Hal tersebut juga bisa diartikan bahwa sholat yang baik adalah sholat yang bisa membuat amalan lainnya baik pula. Hal ini jangan sampai disalah persepsikan bahwa sholat adalah satu satunya ibadah yang akan dihisab di hari kiamat nanti sehingga menjerumuskan kita untuk mengabaikan ibadah lain diluar sholat dengan dalih: yang penting kan sholatnya baik jadi nggak harus berzakat atau ber ini ber itu. Jangan pula beranggapan bahwa sudah mengerjakan sholat puluhan tahun dan tidak pernah bolong sudah cukup dikatakan sholat yang baik.
 
Didalam sholat kita diwajibkan membaca surat Al Fatihah dimana pada ayat ke 6 dst kita memohon kepada Allah: Tunjukanlah kami jalan yang lurus. Yaitu jalan orang orang yang engkau beri Nikmat. Bukan jalannya orang orang yang engkau murkai dan bukan pula jalannya orang orang yang sesat.
Insya Allah jika sholat kita khusuk dan terpenuhi semua syarat sah dan rukun rukunya  niscaya Allah akan menuntun kita ke jalan yang lurus seperti jalannya orang orang yang diberi nikmat dan menjaga serta menjauhkan kita dari jalan orang orang orang orang yang di murkai dan jalannya orang orang yang sesat.
Siapakah orang orang yang diberi Nikmat itu?
Dalam Surat At taubah ayat 100 Allah menjelaskan:

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

Siapakah orang yang dimurkai dan orang yang sesat?
Ayat terakhir dari surat Al Fatihah merupakan penekanan yang berupa pengecualian dari ayat sebelumnya, hal ini berarti bahwa orang yang dimurkai dan orang yang sesat adalah orang yang tidak di beri Nikmat. Atau dapat dikelompokan lagi lebih detail bahwa orang yang di murkai adalah orang orang yang tidak mengamalkan ilmunya sedangkan orang orang yang sesat adalah orang menyimpang dikarenakan beriman tanpa ilmu. Golongan orang yang berilmu tapi tidak mengamalkan contohnya adalah yahudi sedangkan orang yang beriman tanpa ilmu contohnya kaum nasrani

Orang Islam Jelas bukan yahudi atau nasrani, oleh karena itu sebenarnya hal yang perlu lebih diwaspadai umat islam justru perilaku menyimpang diantaranya amalan amalan yang bertentangan dengan Sunnah rasul ataupun amalan amalan yang tidak ada tuntunannya dari rosul (Bid’ah). Perdebatan tentang Bid’ah memang masalah yang sulit untuk dipersatukan karena factor hawa nafsu, keangkuhan dan fanatisme golongan pendebat. Meskipun salah satu diantara dua pendapat tersebut pasti ada yang benar. Karena biasanya pelaku bid’ah memandang baik amalan amalan mereka sehingga sangat susah untuk keluar dari perilaku tersebut. Itu lah kenapa ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Bid’ah lebih disukai setan daripada kejahatan. Karena sejahat jahatnya pelaku kejahatan pasti didalam hatinya terdapat penolakan sehingga lebih mudah untuk bertobat. Inilah perlunya kita melakukan sholat yang baik sehingga insya Allah kita akan ditunjukan ke jalan yang lurus dijauhkan dari sifat angkuh dan terhindar dari amalan amalan yang sesat.

Kamis, 04 Juli 2013

DEMI WAKTU SESUNGGUHNYA MANUSIA BENAR BENAR BERADA DI DALAM KERUGIAN



Mungkin ayat tersebut hampir kita semua umat islam hafal bahkan anak anak kecil karena memang termasuk surat yg pendek, mungkin ini termasuk surat favorit yang selalu dibaca dalam sholat kita.
Pertanyaanya? Sudahkah kita memahami maknanya atau paling tidak mengetahui artinya

Kalau kita cermati dengan seksama ayat di atas, ancaman Allah sangatlah serius dan kelak benar benar terjadi di akhirat. Allah bahkan membuat beberapa penekanan berulang kali dalam ayat yang pendek tersebut :
Pertama:
Kata "Demi" di awal surat merupakan sumpah Allah secara tegas. Sumpah dalam bahasa sehari hari merupakan cara seseorang untuk mengutarakan bahwa sesuatu yang disampaikan adalah serius. Apalagi dalam hal ini yang bersumpah adalah Allah.
Kedua:
Kata "Innal " yang berarti "sesungguhnya" merupakan penekanan kedua dalam ayat ini
Ketiga:
Kata "benar benar" merupakan penekanan yang ketiga untuk menegaskan betapa seriusnya permasalahan ini
Keempat:
Kata "La fii" yang bermakna  berada di dalam ,menegaskan kita memang tenggelam dalam kerugian seolah olah kita sulit bangkit karena terkepung kerugian, di dalam kerugian tentu maknanya lebih serius jika hanya dibandingkan dengan rugi saja. Hal ini sebenarnya Allah ingin sekali agar kita mendengarkan dan memahami peringatannya.
Sebagian besar manusia melewatkan waktunya dengan sia-sia ataupun kalau ada yang sibuk hanya kesibukan mencari keduniaan. Marilah kita perhatikan kondisi masyarakat kita sekarang, Betapa kita sekarang berada di masa yang sangat tidak ideal untuk beribadah. berlomba lomba dalam kekayaan, bermewah mewah dalam berpakaian, berpola pikir materialis, dengan mengukur kesuksesan dari harta dan pangkat, berbohong, memaki, mencela , menggunjing dan masih banyak lagi. Demikianlah salah satu ciri2 orang yang rugi.
Apa artinya Rugi? Rugi adalah modal tidak kembali utuh.
Ada rugi yang total ada rugi sebagian.  Atau rugi adalah orang yang timbangan pahalanya lebih sedikit dari amal sholehnya. Artinya masuk neraka. Apakah kita tidak takut neraka?
Apakah belum pernah kita dengar bahwa siksa Allah sangat sangat pedih! Neraka yang paling ringan adalah dimana di kaki kita di beri batu yang membara yang mengakibatkan otak kita mendidih.  
Allah telah memberi kita modal baik kepada orang kafir maupun orang muslim berupa Umur , baik kepada orang kafir maupun orang muslim. Sekarang tinggal bagaimana kita mengisi umur kita. Umur kita adalah Wadah, Contoh Gelas, tinggal seberapa banyak kita isi dengan air, misal yang bening adalah amal baik dan diisi juga air yang berwarna atau dosa lalu kita lihat mana yang lebih banyak?

Kerugian Total

Dalam Al Quran surat Faatir ayat 37 Allah bercerita.

Orang orang yang berada di  neraka berteriak teriak (kepada Allah) dari dalamnya : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan". Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.

Disini Allah mengatakan: Bukankah kalian sudah diberi umur?
Ada orang yang diberi umur sangat panjang tapi tidak digunakan untuk berpikir, ditambah lagi sudah datang orang orang yang memberi peringatan. Itulah orang orang yang rugi, karena mereka tidak dapat menutupi kerugian tersebut dengan apa yang mereka miliki. Meskipun mereka memiliki kekayaan ratusan trilyun, meskipun mereka mempunyai tanah ribuan hektar sawah , meskipun mereka mempunyai mobil mewah segala merk tetap tidak akan bisa untuk menebus siksaan Allah.

Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.   (Al Maidah ayat 36)

Kerugian Parsial

Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (Al A’raaf ayat 9)

Minggu, 23 Juni 2013

RAMADHAN SEBENTAR LAGI

Ramadhan sebentar lagi, Ada yang sedih dan ada yang senang. yang sedih mungkin karena dia termasuk orang yang suka mengumbar nafsu makannya sehingga terbatasi ketika di bulan ini. Atau mungkin dia seorang pengusaha warung makan sehingga tidak bisa buka disiang hari. Yang senang juga macam macam alasannya, ada yang berharap bisa mengais rejeki dengan berjualan es kelapa muda atau kolak di sore hari. Tapi bukan seperti itu seharusnya. Nabi Sallallahu alaihi wassalam jauh jauh hari menjelang ramadhan selalu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya, Wahai sahabatku, akan datang suatu bulan yang penuh berkah, dibulan itu dibukalah pintu pintu surga dan dibelenggu setan2 yang sangat jahat. Kalau setan dibelenggu kenapa masih banyak orang yang berbuat maksiat? karena yang dibelenggu hanya setan setan yang sangat jahat sedangkan setan yang tidak terlalu jahat masih dibiarkan berkeliaran. Hal ini menunjukan betapa rendahnya iman seseorang yang berbuat maksiat di bulan romadhon karena tergoda oleh setan kelas teri

Selasa, 04 Juni 2013

MENYAMBUT BULAN RAMADHAN



Ramadhan sebentar lagi, apa yang sudah kita persiapkan untuknya? Marilah kita sambut bulan Ramadhan kali ini dengan meriah, dengan banyak mengamalkan amalan-amalan wajib maupun sunnah yang disukai Alloh agar Ramadhan kita kali penuh berkah amiin.
Untuk itu marilah kita sejenak merenungi nasihat salah seorang ‘ulama ahlussunnah dan juga seorang mufti agung ( pemberi fatwa ) dari saudi ‘arabia yaitu Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah dalam menyambut bulan suci Ramadhan
بسم الله والحمد لله وصلى الله على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه، أما بعد:
Sesungguhnya aku menasehatkan kepada saudaraku-saudaraku kaum muslimin di mana pun berada terkait dengan masuknya bulan Ramadhan yang penuh barakah tahun 1413 H ini [1] dengan taqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, berlomba-lomba dalam seluruh bentuk kebaikan, saling menasehati dengan al haq, dan bersabar atasnya, at-ta’awun (saling membantu) di atas kebaikan dan taqwa, serta waspada dari semua perkara yang diharamkan Allah dan dari segala bentuk kemaksiatan di manapun berada. Terlebih lagi pada bulan Ramadhan yang mulia ini, karena ia adalah bulan yang agung. Amalan-amalan shalih pada bulan itu dilipatgandakan (pahalanya), dosa dan kesalahan akan terampuni bagi siapa saja yang berpuasa dan mendirikannya (dengan amalan-amalan kebajikan) dengan penuh keimanan dan rasa harap (akan keutamaan dari-Nya), berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan rasa harap, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Al Bukhari 2014 dan Muslim 760)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ.
Jika telah masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu Al Jannah akan dibuka, pintu-pintu Jahannam akan ditutup, dan para syaitan akan dibelenggu. (HR. Al Bukhari 1899 dan Muslim 1079)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّيْ صَائِمٌ.
Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa. (HR. Al Bukhari 1904)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ، لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ، فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ، وَلَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ عِنْدَ اللهِ أَطْيَبُ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Semua amalan anak Adam untuknya, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya, kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, Aku yang akan membalasnya. Karena seorang yang berpuasa telah meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena Aku. Bagi seorang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: gembira ketika berbuka, dan gembira ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut seorang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi daripada minyak wangi misk. (HR. Al Bukhari 1904 dan Muslim 1151)
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya dengan masuknya bulan Ramadhan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka:
أتاكم شهر رمضان شهر بركة، ينزل الله فيه الرحمة، ويحط الخطايا، ويستجيب الدعاء، ويباهي الله بكم ملائكته ، فأروا الله من أنفسكم خيرا ؛ فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh barakah. Allah menurunkan padanya rahmah, menghapus kesalahan-kesalahan, mengabulkan do’a, dan Allah membanggakan kalian di hadapan para malaikat-Nya, maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari diri-diri kalian, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan padanya rahmat Allah. (Dalam Majma’ Az-Zawa`id Al-Haitsami menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir)
Dan beliau ‘Alaihish Shalatu Wassalam bersabda
من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan yang haram dan mengamalkannya, ataupun bertindak bodoh, maka Allah tidak butuh dengan upaya dia dalam meninggalkan makan dan minumnya. (HR Al Bukhari dalam Shahihnya).
Hadits-hadits tentang keutamaan bulan Ramadhan dan dorongan untuk memperbanyak amalan di dalamnya sangatlah banyak.
Maka aku juga mewasiatkan kepada saudara-saudaraku kaum muslimin untuk istiqmah pada siang dan malam-malam bulan Ramadhan dan berlomba-lomba dalam segala bentuk amalan kebaikan, di antaranya adalah memperbanyak qira’ah (membaca) Al Qur’anul Karim disertai dengan tadabbur (upaya mengkajinya) dan ta’aqqul (upaya memahaminya), memperbanyak tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar, serta memohon kepada Allah Al Jannah, berlindung kepada-Nya dari An Nar, dan do’a-do’a kebaikan yang lainnya.
Sebagaimana aku wasiatkan juga kepada saudara-saudaraku untuk memperbanyak shadaqah, membantu para fakir miskin, peduli untuk mengeluarkan zakat dan menyalurkannya kepada yang berhak menerimanya, disertai juga dengan kepedulian untuk berdakwah ke jalan Allah subhanahu, memberikan pengajaran kepada orang jahil, dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara yang lembut, hikmah, dan metode yang baik, disertai juga dengan sikap hati-hati dari segala bentuk kejelekan, dan senantiasa bertaubat dan istiqmah di atas al-haq dalam rangka mengamalkan firman-Nya subhanahu:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nur: 31)
Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istioqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni Al Jannah, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Al Ahqaf: 13-14)
Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq bagi semuanya kepada perkara-perkara yang diridhai-Nya, dan mudah-mudahan Allah melindungi semuanya dari kesesatan (yang disebabkan) fitnah dan gangguan-gangguan setan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.
[1] Nasehat ini disampaikan pada 1413 H. namun karena isi nasehat ini tidak pernah kadaluwarsa dan senantiasa relevan maka kami tampilkan kembali meskipun sudah berlalu 7 tahun yang lalu

Senin, 03 Juni 2013

TAFSIR SURAT AL MAA'UUN




Tahukah kamu siapa yang mendustakan agama? Katakan kepadaku, siapakah dia? Wajib bagi orang yang beragama untuk tahu hakikat ini agar dia menjauhi hal ini berikut sifat-sifatnya. Kata tanya di sini dimaksudnya untuk membuat audiens penasaran terhadap berita lanjutannya. Juga sebagai pertanda bahwa masalah ini sangat misteri. Sebab setiap orang mengklaim dirinya membenarkan agama. Apakah kamu tahu siapa yang sesungguhnya mendustakan agama itu? Kalau tidak tahu, itulah sebenarnya yang mendustakan agama itu; yang menghardik dan memperlakukan anak yatim secara kasar serta merampas haknya jika ia mempunyai harta benda, atau haknya untuk mendapatkan sedekah jika anak itu fakir. Dia juga tidak menasihati orang lain untuk memberi makan kepada fakir miskin. Jika menasihati saja tidak, tentu dia sendiri tidak memberi makan kepada mereka.
Lihatlah tanda-tanda orang yang mendustakan agama sebagaimana yang disebutkan Al-Qur’an ini; merampas hak, menyakiti orang lemah, sangat pelit terhadap orang-orang yang memang punya hak. Jika kamu tahu hal itu, sungguh celaka orang-orang yang shalat, mereka yang lalai terhadap shalatnya, yang mengerjakan shalat tanpa khusyu’, tidak menghadirkan hati untuk merenungi keagungan Allah, dan tanpa mentadaburi makna yang dibacanya. Shalat yang dilaksanakan seseorang namun ia tidak merasa berada di hadapan Penciptanya. Anda melihatnya bertasbih dengan otaknya dan menggerak-gerakkan ujung jemarinya namun ia tidak sadar sudah berapa rakaat yang dikerjakannya.
Itulah shalat sebagian orang yang mendustakan agama. Shalat semacam ini tentu saja tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar. Karena orang yang mengerjakannya lalai dari dzikir kepada Allah. Lebih dari itu ia juga mengharap agar dilihat manusia disebut-sebut. Mereka lakukan hal itu bukan untuk Allah. Karena terlalu pelitnya, mereka menolak memberi kepada orang yang membutuhkan.
Tahukah kamu siapa orang yang mendustakan agama? Dialah yang berperilaku kasar terhadap anak yatim dan tidak memberikan hak-hak fakir miskin. Di samping itu ia juga lalai terhadap shalatnya, memperlihatkan amalnya kepada manusia, dan menahan pemberiannya kepada orang lain. Celaka dan celakalah orang seperti itu. Kendatipun mereka puasa dan shalat.

Minggu, 02 Juni 2013

KEWAJIBAN MEMAHAMI DAN MENGAMALKAN AL QURAN

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang paling utama dan dicintai Allah. Dalam hal ini para ulama sepakat, bahwa hukum membaca Al-Qur’an adalah wajib ‘ain. Maknanya, setiap individu yang mengaku dirinya muslim harus mampu baca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Kalau tidak, maka ia berdosa.
Karena bagaimana mungkin kita mengamalkan al-Qur’an tanpa mau membaca dan memahaminya.Beriman terhadap Al-Qur’an bukan sekedar percaya saja, namun mesti dibuktikan dengan implementasi yang nyata sebagai tuntutan dari iman tersebut yaitu membaca, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur’an merupakan pedoman, konsep, dan aturan hidup manusia. Dalam konteks hablum minallah, Al-Qur’an mengatur relasi hamba dengan khaliqnya. Hubungan vertikal ini dalam bahasa syariat disebut ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Sedangkan dalam konteks hablum minan naas, Al-Qur’an menjelaskan tata cara pergaulan dan hubungan manusia dengan dirinya, manusia lain dan makhluk Allah lainnya. Hubungan horizontal ini dikenal dengan sebutan muamalah. Konkritnya, Al-Qur’an memberi petunjuk bagaimana mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Mengamalkan al-Qur’an merupakan kewajiban bagi setiap muslim, bahkan menjadi syarat utama menjadi seorang yang beriman. Allah swt dan Rasul-Nya saw telah memerintahkan kita untuk mengamalkan ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah, agar kita selamat dunia dan akhirat. Bahkan Rasulullah saw mengingatkan kita akan penting pengamalan terhadap al-Qur’an dan sunnah Rasul saw dengan sabdanya, “Aku tinggalkan kepada kamu sekalian dua hal, jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah Rasul saw.” (H.R. At-Tirmizi) Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang sesat itu orang meninggalkan ajaran al-Qur’an dan As-Sunnah.
Namun sayangnya, selama ini kebanyakan umat Islam telah meninggalkan al-Qur’an. Al-Qur’an tidak mendapat perhatian dan tidak dibaca untuk diamalkan sebagaimana mereka sibuk membaca bacaan lain selainnya. Selama ini kita mampu membaca surat kabar, majalah dan buku setiap hari, namun kita tidak mampu membaca al-Qur’an.
Kita mampu membaca dan mengkhatamkan surat kabar yang jumlah kata atau hurufnya hampir sama dengan 1 juz al-Qur’an dalam waktu belasan menit, namun kita tidak mampu membaca beberapa halaman dari al-Qur’an. Begitu pula kita mampu membaca majalah yang tebalnya seperempat atau sepertiga al-Qur’an dalam waktu beberapa jam, namun giliranya membaca al-Qur’an kita tidak mampu membaca beberapa juz dalam waktu yang sama. Bahkan kita mampu membaca dan mengkhatamkan buku novel, komik dan roman yang tebalnya sama dengan al-Qur’an dalam waktu seminggu, namun kita tidak mampu mengkhatamkan al-Qur’an dalam waktu yang sama, bahkan sebulan sekalipun. Inilah kondisi iman kita saat ini yang sangat lemah dan kritis.
Sejatinya kita bercermin kepada kehidupan orang-orang yang shalih. Mereka menjadikan al-Qur’an sebagai buku bacaan hariannya. Mereka tidak pernah bosan dan kenyang dengan al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan oleh Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, “Kalau hati kita bersih, maka kita tidak pernah kenyang dengan al-Qur’an.” Karena dengan senantiasa membaca al-Qur’an, kita akan mendapatkan banyak kebaikan.
Asy syahid Sayyid Quthub mengatakan dalam muqaddimah tafsirnya, “Hidup dalam naungan al-Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang hanya diketahui oleh siapa yang telah merasakannya. Nikmat yang akan menambah usia, memberkahi dan menyucikannya.”
Sungguh banyak keutamaan dan keuntungan yang diperoleh bagi orang yang membaca al-Qur’an. Keuntungan tersebut tidak dimiliki oleh bacaan lainnya seperti surat kabar, majalah dan buku. Diantara keutamaan dan keuntungan orang yang membaca al-Qur’an yaitu;
Pertama: orang yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan syafaat (pertolongan) pada hari Kiamat nantinya berdasarkan sabda Rasulullah saw bersabda: ”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.” (H. R. Muslim). Tentunya tidak hanya sekedar membaca, juga mengamalkannya. Namun demikian, tanpa membaca al-Qur’an maka tidak mungkin kita mengamalkannya. Selain Rasulllah saw, tidak seorangpun yang mampu memberikan pertolongan kepada seseorang pada hari hisab, kecuali al-Qur’an yang dibaca selama ia hidup di dunia.
Kedua, Rasulullah saw menegaskan bahwa orang yang terbaik di antara manusia adalah orang yang mau mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an, sesuai dengan sabdanya, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (H.R. Bukhari). Oleh karena itu, orang yang terbaik di dunia ini bukanlah orang yang punya memiliki harta yang melimpah, jabatan maupun pangkat yang tinggi. Namun, disisi Allah Swt orang terbaik itu adalah orang yang mau belajar al-Qur’an dan mengajarkan kepada orang lain.
Ketiga, orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan disediakan tempat yang paling istimewa di surga bersama para malaikat yang suci. Sedangkan orang yang membaca terbata-bata (belum pandai), maka ia akan diberi dua pahala yaitu pahala mau belajar dan kesungguhan membaca, sesuai dengan sabda Rasulullah saw, ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim).
Keempat, kejayaan suatu umat Islam itu dengan membaca al-Qur’an dan mengamalkannya. Namun sebaliknya, musibah yang menimpa umat ini disebabkan karena sikap acuh tak acuh kepada al-Qur’an dan meninggalkannya. Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya Allah Swt meninggikan (derajat) ummat manusia ini dengan Al-Qur’an dan membinasakannya pula dengan Al-Qur’an” (H.R Muslim). Inilah rahasia mengapa generasi awal umat Islam (generasi sahabat, tabi’in dan tabi’itabi’in) menjadi generasi terbaik umat ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasul saw. Mengapa demikian?
Jawabannya adalah karena mereka mengamalkan al-Qur’an dan sunnah Rasul saw. Maka Islampun berjaya pada masa-masa mereka, sehingga tersebar keseluruh penjuru dunia. Namun, setelah generasi tersebut sampai saat ini umat Islam meninggalkan al-Qur’an sehingga umat Islam menjadi lemah dan hina karena dijajah oleh orang kafir, bahkan dizalimi dan dibunuh seenaknya oleh orang kafir akibat meninggalkan al-Qur’an.
Kelima, orang yang membaca dan mendengar Al-Qur’an akan mendapatkan sakinah, rahmah, doa malaikat dan pujian dari Allah. Nabi saw bersabda: ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim).
Memang, membaca dan mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an menentramkan hati kita sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt, ““…Ingatlah, hanya dengan zikir (mengingat) Allah hati menjadi tenang”. (Q.S Ar-Ra’d: 28). Al-Qur’an merupakan zikir yang paling afdhal (utama). Oleh karena itu, ketenangan tidaklah diperoleh dengan harta yang banyak, pangkat dan jabatan, namun diperoleh dengan sejauh mana interaksi kita dengan al-Qur’an.
Keenam, mendapat pahala yang berlipat ganda. Rasulullah Saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf (H.R at-Tirmizi) Membaca “alif lam mim” saja kita mendapatkan pahala sebanyak 30 kebaikan, maka bagaimana dengan membaca sejumah ayat-ayat yang dalam satu halaman al-Qur’an? Bahkan berapa jumlah pahala yang kita peroleh bila kita mampu membaca 1 juz dengan jumlah huruf ribuan atau ratusan ribu? Tentu pahalanya sangat banyak, bahkan kita tidak sanggup menghitungnya.
Demikianlah berbagai keutamaan dan keuntungan bagi orang yang membaca dan mempelajari al-Qur’an pada bulan-bulan biasa. Maka, terlebih lagi pada bulan Ramadhan sebagai bulan al-Qur’an?! Tentu, pahalanya berlipat ganda dibandingkan dengan bulan-bulan biasa. Maka, sangatlah rugi bagi orang-orang yang tidak mau membaca dan mempelajari al-Qur’an, terlebih lagi di bulan Ramadhan yang dilipat gandakan pahala padanya. Dan keutamaan-keutamaan tersebut tidak dimiliki oleh bacaan lainnya selain al-Qur’an.
Akhirnya, marilah kita manfaatkan hari-hari di bulan Ramadhan dengan berbagai aktivitas ibadah, khususnya membaca al-Qur’an. Karena bulan Ramadhan adalah bulan al-Qur’an, maka sudah sepatutnya kita lebih mengutamakan dan menyibutkan diri dengan berinteraksi dengan Al-Qur’an pada bulan yang mulia ini, baik dengan membaca, mempelajari, memahami, mentadabburi, menghafal maupun mengamalkannya. Semoga kita bisa memanfaatkan momentum Ramadhan ini dengan sebaik mungkin dan meraih berbagai keutamaan yang disediakan di bulan ini, termasuk berbagai keutamaan membaca dan mempelajari al-Qur’an. Semoga..!!

Selasa, 12 Juni 2012

RAIH SETINGGI YANG KITA MAMPU

Suatu hari dalam kondisi yang putus asa seseorang memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya, bahkan berhenti dari hubungannya dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasnya. Maka dia pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya. “Tuhan, berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti” katanya.
Tuhan memberi jawaban yang mengejutkannya. “Lihat ke sekelilingmu”, kataNya. “Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada di hutan ini?” “Ya”, jawabnya.
Lalu Tuhan berkata, “Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya, Aku beri mereka air, dan pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah, namun tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tapi Aku tidak berhenti merawatnya.”
“Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu, tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya.”
“Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari benih bambu itu tapi Aku tetap tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke empat. ”
“Lalu pada tahun ke lima sebuah tunas yang kecil muncul dari dalam tanah. Bandingkan dengan pakis, yang kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti. Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani.”
“Tahukah engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu, Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu”.
Tuhan berkata, “Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.”
“Saatmu akan tiba”, Tuhan mengatakan itu kepadanya. “Engkau akan tumbuh sangat tinggi.”
“Seberapa tinggi aku harus bertumbuh Tuhan?” tanyanya. “Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?” Tuhan balik bertanya. “Setinggi yang mereka mampu?” dia bertanya.
“Ya.” jawabNya “Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai.”
Lalu dia pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Tuhan tidak akan pernah menyerah terhadapnya dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda.
Ps: Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari. Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan, hari-hari yang kurang baik memberi pengalaman, kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini. Kadang kala kita sering gagal dalam melakukan segala sesuatu, ingatlah No one is perfect, jadi janganlah menyerah dan putus asa karena kegagalan yang kita alami ibarat sedang menumbuhkan akar-akar yang kuat agar suatu hari dapat tumbuh setinggi-tingginya.

Jumat, 01 Juni 2012

SYIAH LURUS ATAU SESAT?

Miris.. membaca berita tentang pembantaian rakyat sipil di suriah, mengapa kalau sesama umat islam kok tega membantai saudaranya sendiri? banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab di otaku. Bagaimana mungkin di tanah arab muncul aliran aliran yang sesat? dari beberapa sumber yang aku baca, aliran SYIAH tidak mengakui Nabi Muhamad sebagai Rasul terakhir dan didalam kalimat syahadatnya juga dirubah, Benarkah?

Senin, 09 Februari 2009

TIPS AGAR BLOG CEPET DAPAT TRAFFIC TINGGI

Menjaring pengunjung bagi blogger pemula mungkin sesuatu yang sangat susah, dimana kita harus bisa menganalisa cara cara mana yang paling efektif dan efisien dalam menjaring pengunjung ke blog kita. Tak jarang kita sebenarnya sudah melakukan hal yang seharusnya, tapi karena kita kurang jeli dalam menganalisa cara cara tersebut , hasilnya menjadi sangat tidak sesuai harapan.
Beberapa tips yang ada di Internet sudah saya coba, mulai dari iklan baris gratis, google adword, ikut milis , menjadi anggota komunitas blogger dan mengomentari blog orang lain , tapi setelah saya pertimbangkan, akhirnya saya lebih memilih dengan cara: (1) mengkomentari blog orang lain sebagai cara yang lumayan efektif dan murah untuk meningkatkan traffic ke blog kita, tapi ada triknya lho..... cobalah mulai dari blog yg jarang dikomentari orang lain, dengan catatan........ blog tersebut sering di update, karena hal ini menunjukan bahwa blog tersebut masih aktif.
Seperti yang terjadi pada saya yg pemula ini, betapa senangnya ketika melihat postingan saya ada yang mengomentari , meskipun baru 2 komentar diblog saya sampai saat ini, sebagai ucapan terima kasih saya, dengan senang hati saya langsung mengunjungi blog tersebut, dan setiap blog yg saya kunjungi pasti selalu saya klik adsensenya, ga tanggung tanggung..... bisa lebih dari 5 klik perhari, suatu ucapan terima kasih yang pantas bukan?............... itulah seorang pemula seperti saya.
Bukannya saya hendak mengatakan bahwa blog yang sudah ternama pemiliknya tidak mau mengunjungi blog kita, hanya saja itu kemungkinannya lebih kecil..apalagi sampai mengklik adsense kita... kelihatannya enggak deh...

makanya ... sesama pemula harus kompak bekerjasama...

(2) cara ini sedikit nakal tapi jitu juga, yaitu cobalah luangkan sedikit waktumu untuk mampir ke warnet ketika sedang berada di luar kota, ga usah lama-lama, cukup 1/2 jam saja, lumayan sudah bisa klik beberapa kali artiket kita sendiri...and jangan lupa adsensenya, kalo dihitung bisa nyampe 5 klik...kadang kadang hasilnya bisa nyampe 1 dolar , lumayan untuk mengganti waktu 1/2 jam kita di warnet yang tarifnya paling paling Rp. 1500.....
tapi ingat jangan sampe kita login disitu, ntar ketahuan..lho.. bisa diblokir adsense kita...
(3) berkomenlah dengan nama identitas yang menarik, misalnya: dewi cantik atau gadis seksi, pasti akan mendatangkan pengunjung ke blog kita, karena sepengetahuan saya 80 % persen bloger adalah laki laki.

bagaimana?...mau coba?

Demikian sekelumit dari saya, lain kali saya tambahin..., semoga bermanfaat..
yang terakhir sekali , terimakasih kepada pengunjung blog saya yang pertama (mbak sarah), terima kasih komentarnya ,semoga tidak bosan main ke dunia saya...
Sebenarnya masih ada lagi yang coment....., tapi kok malah kampanye minta dipilih karena dia caleg, jadi lucu juga , ga nyambung dengan artikelnya... tapi yang penting sudah berkunjung ke blog saya , saya tetep berterimakasih... insya Allah saya pilih anda, asal adsense saya diklik 3 kali per hari .. thanks

Senin, 24 November 2008

Too little sleep tied to increased cancer risk

WASHINGTON - By Will Dunham
Regular exercise can reduce a woman's risk of cancer, but the benefits may slip away if she gets too little sleep, U.S. researchers said on Monday.
The study involving 5,968 women in Maryland confirmed previous findings that people who do regular physical activity are less likely to develop cancer.
But when the researchers looked at the women ages 18 to 65 who were in the upper half in terms of the amount of physical exercise they got per week, they found that sleep appeared to play an important role in cancer risk.
Those who slept less than seven hours nightly had a 47 percent higher risk of cancer than those who got more sleep among the physically active women, the researchers reported at a meeting of the American Association for Cancer Research.
"We think it's quite interesting and intriguing. It's kind of a first look into this. It isn't something that has been widely studied," James McClain of the National Cancer Institute, part of the U.S. government's National Institutes of Health, said in a telephone interview.
McClain, who led the study, said it is unclear exactly how getting too little sleep may make one more susceptible to cancer. "Getting adequate sleep has been long associated with health," McClain said.
The U.S. Centers for Disease Control and Prevention calls sleep loss an under-recognized public health problem, saying Americans are getting less and less slumber. The CDC said the percentage of adults reporting sleeping six hours or fewer a night increased from 1985 to 2006.
Sleep experts say chronic sleep loss is associated with obesity, diabetes, high blood pressure, stroke, cardiovascular disease, depression, cigarette smoking and excessive drinking.
In addition, research had shown that people who get regular exercise have a reduced risk of breast, colon and other types of cancer. Experts think the effects of exercise on the body's hormone levels, immune function and body weight may play an important role.
Copyright 2008 Reuters

Popping vitamins C and E doesn't stop cancer

WASHINGTON - Men who took vitamin E or vitamin C supplements were no more or less likely to develop cancer than men given a placebo, indicating these antioxidants have no cancer-prevention value, U.S. researchers said on Sunday.
Previous research showed that people who ate diets rich in vitamins E and C had a lower risk of cancer, suggesting that supplements of these vitamins might help ward off cancer, the researchers said.
The new study tracked cancer risk in 14,641 male U.S. doctors who took either 400 IU of vitamin E every other day or a placebo, or 500 milligrams of vitamin C daily or a placebo. Their average age was 64 at the start of the study and they were followed for eight years on average.
Taking the vitamins had no impact on the risk for any type of cancer, Howard Sesso of Harvard Medical School and Brigham and Women's Hospital in Boston and colleagues reported at a meeting of the American Association for Cancer Research.
Vitamins don't prevent heart disease, eitherOne week ago, Sesso reported in the Journal of the American Medical Association that in the same population of men, taking these vitamins also failed to reduce their risk of cardiovascular disease including heart attack and stroke.
"In our view, there's really no compelling reason to take these individual vitamin E and C supplements," Sesso said in a telephone interview. "Until other evidence comes out otherwise, we would argue that without any clear benefit, why would you take these?"
Vitamin E and vitamin C are antioxidants, thought to protect against damage caused by free radicals, substances that can harm cells, tissues and organs. Fruits and vegetables are rich in both, and it has been shown that people who eat plenty of these foods may have a lower risk of heart disease, cancer and other conditions.
The researchers were particularly interested in whether vitamin E supplementation would reduce the risk of prostate cancer after earlier research suggested it might. It did not.
There has been controversy over vitamin C and cancer for decades. The idea that vitamin C, also known as ascorbic acid, could be used to treat cancer was advanced in the 1970s by American scientist Linus Pauling, who awarded the Nobel Prize in chemistry in 1954.
Sesso said an ongoing element of his research is looking at whether taking a multivitamin combining a number of different vitamins has any effect on the risk for cancer and cardiovascular disease.
Copyright 2008 Reuters

Some breast cancers spontaneously disappear

NEW YORK - The results of a mammographic screening study suggest that some invasive breast cancers may spontaneously regress over time.
These findings "provide new insight on what is arguably the major harm associated with mammographic screening, namely, the detection and treatment of cancers that would otherwise regress," Dr. H. Gilbert Welch, from the Department of Veteran Affairs Medical Center, White River Junction, Vermont, and colleagues state.
The study, which is published in the Archives of Internal Medicine, involved 119,472 women, from 50 to 64 years of age, who underwent three rounds of mammography screening from 1996 to 2001 as part of the Norwegian Breast Cancer Screening Program. The cancer rates in this group were compared with those in 109,784 control women who would have been screened had the program been in place in 1992.
Women in the control group were invited to undergo a one-time screen at the conclusion of their observation period, the authors explain.
As anticipated, the 4-year cumulative incidence of invasive breast cancer in the screened group was higher than in the control group before screening: 1268 vs. 810 cases per 100,000 population.
However, even after the one-time screen in the control group, the 6-year cumulative incidence of breast cancer in the screened group was still higher: 1909 vs. 1564 cases per 100,000 population.
"Because the cumulative incidence among controls never reached that of the screened group, it appears that some breast cancers detected by repeated mammographic screening would not persist to be detectable by a single mammogram at the end of 6 years," Welch and colleagues conclude.
"If the 'spontaneous remission' hypothesis is credible, it should cause a major reevaluation in the approach to breast cancer research and treatment," Dr. Robert M. Kaplan, from University of California, Los Angeles, and Dr. Franz Porzsolt, from the University of Ulm, Germany, write in a related editorial. "Certainly it is worthy of further evaluation. But, finding better data to assess the hypothesis will be difficult."
Copyright 2008 Reuters

(msnbc)

Minggu, 23 November 2008

Prabowo, Wiranto hint at coalition

Abdul Khalik , The Jakarta Post , Jakarta | Sat, 11/22/2008 12:54 PM | National

In a move that could end years of bitter rivalry, prominent military figures Prabowo Subianto and Wiranto have hinted at the possibility of joining forces in the next presidential election.

In separate statements both Prabowo, chief patron of the Greater Indonesian Movement Party (Gerindra) and Wiranto, chairman of the People's Conscience Party (Hanura), admitted competing against either President Susilo Bambang Yudhoyono or former president Megawati Soekarnoputri would be difficult in the absence of a coalition.

Pressure has been mounting for parties to merge since a recent law stated that only a party, or coalition of parties, could contest the presidential elections if it secured at least 20 percent of House of Representatives seats or 25 percent of popular votes in the legislative elections.

"There is no other way. We have to form a coalition with a party, and I think Hanura is one of the options. Pak Wiranto and myself are (loyal to) red and white," Prabowo said Friday, referring to the two parties' nationalist platform.

Prabowo was speaking after a "nostalgic meeting" with Timor Leste armed forces chief of staff Col. Lere Anan Timur. Both were adversaries when Timor Leste was part of Indonesia.

Wiranto has also acknowledged that Hanura should team up with other parties, including Gerindra, to qualify for the presidential election.

Wiranto said whoever secured the highest vote in terms of popularity and electability in the national polls deserved the chance to run for presidency, whether it was himself, Prabowo or anybody else in the coalition.

A recent survey by the Indonesian Survey Institute (LSI) found Wiranto and Prabowo were neck to neck in the polls and were the third and fourth most popular presidential candidates respectively behind Yudhoyono and Megawati. A different survey by the National Leadership Centee (NLC) ranked Prabowo third, ahead of Wiranto.

More recent surveys however have consistently put Gerindra above Hanura, attributing the result to aggressive TV ads.

Prabowo said Gerindra would not depend solely on TV ads but would run an intensive campaign at a grassroots level.

Speculation has been rife for the last few weeks that the Prosperous Justice Party (PKS) would support a coalition between Prabowo and Wiranto, forming a third axis to compete with Yudhoyono and Megawati.

Although not ruling out a possibility of supporting such a coalition, PKS faction chairman at the House of Representatives Mahfudz Siddiq said any formal coalition involving PKS nominating a presidential candidate would be decided after the legislative election in April 2009.

"Right now, we are open to communication with any parties or figures," Mahfudz said.

In a bid to lure more voters, PKS has run television campaigns featuring prominent figures identifiable with Wiranto and Probowo, including former president Soeharto, to boost their image as national heroes.