Minggu, 23 Juni 2013
RAMADHAN SEBENTAR LAGI
Ramadhan sebentar lagi, Ada yang sedih dan ada yang senang. yang sedih mungkin karena dia termasuk orang yang suka mengumbar nafsu makannya sehingga terbatasi ketika di bulan ini. Atau mungkin dia seorang pengusaha warung makan sehingga tidak bisa buka disiang hari. Yang senang juga macam macam alasannya, ada yang berharap bisa mengais rejeki dengan berjualan es kelapa muda atau kolak di sore hari. Tapi bukan seperti itu seharusnya. Nabi Sallallahu alaihi wassalam jauh jauh hari menjelang ramadhan selalu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya, Wahai sahabatku, akan datang suatu bulan yang penuh berkah, dibulan itu dibukalah pintu pintu surga dan dibelenggu setan2 yang sangat jahat. Kalau setan dibelenggu kenapa masih banyak orang yang berbuat maksiat? karena yang dibelenggu hanya setan setan yang sangat jahat sedangkan setan yang tidak terlalu jahat masih dibiarkan berkeliaran. Hal ini menunjukan betapa rendahnya iman seseorang yang berbuat maksiat di bulan romadhon karena tergoda oleh setan kelas teri
Selasa, 04 Juni 2013
MENYAMBUT BULAN RAMADHAN
Ramadhan sebentar lagi, apa yang sudah kita
persiapkan untuknya? Marilah kita sambut bulan Ramadhan kali ini dengan meriah,
dengan banyak mengamalkan amalan-amalan wajib maupun sunnah yang disukai Alloh
agar Ramadhan kita kali penuh berkah amiin.
Untuk itu marilah kita sejenak merenungi nasihat
salah seorang ‘ulama ahlussunnah dan juga seorang mufti agung ( pemberi fatwa )
dari saudi ‘arabia yaitu Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
rahimahullah dalam menyambut bulan suci Ramadhan
بسم الله والحمد لله وصلى الله على رسول الله وعلى
آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه، أما بعد:
Sesungguhnya aku menasehatkan kepada
saudaraku-saudaraku kaum muslimin di mana pun berada terkait dengan masuknya
bulan Ramadhan yang penuh barakah tahun 1413 H ini [1] dengan taqwa kepada
Allah ‘Azza wa Jalla, berlomba-lomba dalam seluruh bentuk kebaikan, saling
menasehati dengan al haq, dan bersabar atasnya, at-ta’awun (saling membantu) di
atas kebaikan dan taqwa, serta waspada dari semua perkara yang diharamkan Allah
dan dari segala bentuk kemaksiatan di manapun berada. Terlebih lagi pada bulan
Ramadhan yang mulia ini, karena ia adalah bulan yang agung. Amalan-amalan
shalih pada bulan itu dilipatgandakan (pahalanya), dosa dan kesalahan akan
terampuni bagi siapa saja yang berpuasa dan mendirikannya (dengan amalan-amalan
kebajikan) dengan penuh keimanan dan rasa harap (akan keutamaan dari-Nya),
berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.
“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan
dengan penuh keimanan dan rasa harap, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang
telah lalu. (HR. Al Bukhari 2014 dan Muslim 760)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ
الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِيْنُ.
Jika telah masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu Al
Jannah akan dibuka, pintu-pintu Jahannam akan ditutup, dan para syaitan akan
dibelenggu. (HR. Al Bukhari 1899 dan Muslim 1079)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :
الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ
أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ
قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّيْ صَائِمٌ.
Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari
kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan
pula bertindak bodoh, jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya,
hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa. (HR. Al Bukhari 1904)
Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam
يَقُوْلُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ
آدَمَ لَهُ، الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِيْ
وَأَنَا أَجْزِيْ بِهِ، تَرَكَ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ مِنْ أَجْلِيْ،
لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ، فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ
رَبِّهِ، وَلَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ عِنْدَ اللهِ أَطْيَبُ مِنْ رِيْحِ
الْمِسْكِ.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: Semua amalan anak
Adam untuknya, setiap satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya,
kecuali puasa, sesungguhnya ia untuk-Ku, Aku yang akan membalasnya. Karena
seorang yang berpuasa telah meninggalkan syahwat, makan, dan minumnya karena
Aku. Bagi seorang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan: gembira
ketika berbuka, dan gembira ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut
seorang yang berpuasa itu di sisi Allah lebih wangi daripada minyak wangi misk.
(HR. Al Bukhari 1904 dan Muslim 1151)
Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya dengan masuknya bulan
Ramadhan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka:
أتاكم شهر رمضان شهر بركة، ينزل الله فيه الرحمة،
ويحط الخطايا، ويستجيب الدعاء، ويباهي الله بكم ملائكته ، فأروا الله من أنفسكم
خيرا ؛ فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله
Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan
yang penuh barakah. Allah menurunkan padanya rahmah, menghapus
kesalahan-kesalahan, mengabulkan do’a, dan Allah membanggakan kalian di hadapan
para malaikat-Nya, maka perlihatkanlah kepada Allah kebaikan dari diri-diri kalian,
sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang diharamkan padanya rahmat
Allah. (Dalam Majma’ Az-Zawa`id Al-Haitsami menyebutkan bahwa hadits ini
diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabir)
Dan beliau ‘Alaihish Shalatu Wassalam bersabda
من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل ، فليس لله
حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan yang
haram dan mengamalkannya, ataupun bertindak bodoh, maka Allah tidak butuh
dengan upaya dia dalam meninggalkan makan dan minumnya. (HR Al Bukhari dalam
Shahihnya).
Hadits-hadits tentang keutamaan bulan Ramadhan
dan dorongan untuk memperbanyak amalan di dalamnya sangatlah banyak.
Maka aku juga mewasiatkan kepada
saudara-saudaraku kaum muslimin untuk istiqmah pada siang dan malam-malam bulan
Ramadhan dan berlomba-lomba dalam segala bentuk amalan kebaikan, di antaranya
adalah memperbanyak qira’ah (membaca) Al Qur’anul Karim disertai dengan
tadabbur (upaya mengkajinya) dan ta’aqqul (upaya memahaminya), memperbanyak
tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan istighfar, serta memohon kepada Allah Al
Jannah, berlindung kepada-Nya dari An Nar, dan do’a-do’a kebaikan yang lainnya.
Sebagaimana aku wasiatkan juga kepada
saudara-saudaraku untuk memperbanyak shadaqah, membantu para fakir miskin,
peduli untuk mengeluarkan zakat dan menyalurkannya kepada yang berhak
menerimanya, disertai juga dengan kepedulian untuk berdakwah ke jalan Allah
subhanahu, memberikan pengajaran kepada orang jahil, dan melakukan amar ma’ruf
nahi mungkar dengan cara yang lembut, hikmah, dan metode yang baik, disertai
juga dengan sikap hati-hati dari segala bentuk kejelekan, dan senantiasa
bertaubat dan istiqmah di atas al-haq dalam rangka mengamalkan firman-Nya
subhanahu:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ
الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (An Nur: 31)
Dan firman-Nya ‘Azza wa Jalla :
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . أُولَئِكَ
أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb
kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istioqamah maka tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan mereka tiada pula berduka cita. Mereka itulah
penghuni-penghuni Al Jannah, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa
yang telah mereka kerjakan. (Al Ahqaf: 13-14)
Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq bagi
semuanya kepada perkara-perkara yang diridhai-Nya, dan mudah-mudahan Allah
melindungi semuanya dari kesesatan (yang disebabkan) fitnah dan
gangguan-gangguan setan. Sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.
[1] Nasehat ini disampaikan pada 1413 H. namun karena
isi nasehat ini tidak pernah kadaluwarsa dan senantiasa relevan maka kami
tampilkan kembali meskipun sudah berlalu 7 tahun yang lalu
Senin, 03 Juni 2013
TAFSIR SURAT AL MAA'UUN
Tahukah kamu siapa yang mendustakan agama?
Katakan kepadaku, siapakah dia? Wajib bagi orang yang beragama untuk tahu
hakikat ini agar dia menjauhi hal ini berikut sifat-sifatnya. Kata tanya di
sini dimaksudnya untuk membuat audiens penasaran terhadap berita lanjutannya.
Juga sebagai pertanda bahwa masalah ini sangat misteri. Sebab setiap orang
mengklaim dirinya membenarkan agama. Apakah kamu tahu siapa yang sesungguhnya
mendustakan agama itu? Kalau tidak tahu, itulah sebenarnya yang mendustakan
agama itu; yang menghardik dan memperlakukan anak yatim secara kasar serta
merampas haknya jika ia mempunyai harta benda, atau haknya untuk mendapatkan
sedekah jika anak itu fakir. Dia juga tidak menasihati orang lain untuk memberi
makan kepada fakir miskin. Jika menasihati saja tidak, tentu dia sendiri tidak
memberi makan kepada mereka.
Lihatlah tanda-tanda orang yang mendustakan agama
sebagaimana yang disebutkan Al-Qur’an ini; merampas hak, menyakiti orang lemah,
sangat pelit terhadap orang-orang yang memang punya hak. Jika kamu tahu hal
itu, sungguh celaka orang-orang yang shalat, mereka yang lalai terhadap
shalatnya, yang mengerjakan shalat tanpa khusyu’, tidak menghadirkan hati untuk
merenungi keagungan Allah, dan tanpa mentadaburi makna yang dibacanya. Shalat
yang dilaksanakan seseorang namun ia tidak merasa berada di hadapan
Penciptanya. Anda melihatnya bertasbih dengan otaknya dan menggerak-gerakkan
ujung jemarinya namun ia tidak sadar sudah berapa rakaat yang dikerjakannya.
Itulah shalat sebagian orang yang mendustakan
agama. Shalat semacam ini tentu saja tidak mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Karena orang yang mengerjakannya lalai dari dzikir kepada Allah. Lebih dari itu
ia juga mengharap agar dilihat manusia disebut-sebut. Mereka lakukan hal itu
bukan untuk Allah. Karena terlalu pelitnya, mereka menolak memberi kepada orang
yang membutuhkan.
Tahukah kamu
siapa orang yang mendustakan agama? Dialah yang berperilaku kasar terhadap anak
yatim dan tidak memberikan hak-hak fakir miskin. Di samping itu ia juga lalai
terhadap shalatnya, memperlihatkan amalnya kepada manusia, dan menahan
pemberiannya kepada orang lain. Celaka dan celakalah orang seperti itu.
Kendatipun mereka puasa dan shalat.
Langganan:
Postingan (Atom)